Mumtazah Akhtar

Mumtazah Akhtar
It's me

Senin, 04 April 2011

Gadis Rel Kereta Api


Pagi itu aku terburu-buru karena bangun kesiangan. Semalam aku menonton drama Korea yang banyaknya 21 episode. Awalnya aku hanya akan menonton hingga episode kelima. Akan tetapi setelah aku menonton episode kelima, aku penasaran untuk menonton episode selanjutnya. Hal itu berlanjut hingga episode 14. Aku rasa aku akan menyesal jika tidak menontonnya sampai tamat. Akhirnya dengan terkantuk-kantuk aku memaksakan diri menonton hingga tamat. Berhasil. Akan tetapi aku tak sadar bahwa jam sudah menunjukkan pukul 3.00 dini hari. Aku tertidur lelap dan enam jam kemudian terbangun. Saat aku lihat jam beker di samping tempat tidurku menunjukkan jam 6 pagi, dengan santai aku bangun dari tempat tidur dan merapikan segalanya.
Tiba-tiba handphone ku berbunyi. Aku selalu kesal dengan nada handphone ku yang monophonic dengan volume di atas normal. Membuat gendang telingaku bergerak-gerak seakan mau pecah. Berkali-kali aku mencoba mengubah nada itu menjadi lebih soft dan enak didengar. Akan tetapi selalu tak berhasil. Aku bahkan tanpa malu-malu meminta teman-temanku mengubahnya. Saat aku mengajukan permintaan itu, hampir semua teman-temanku tertawa karena mereka pikir aku mahasiswa yang gagap teknologi. Handphoneku yang sederhana saja tak bisa aku taklukan, apalagi Blackbery atau i-phone. Itu pikir mereka. Uniknya, dari puluhan teman-temanku yang aku mintai tolong, tak ada satupun yang dapat mengubah nada deringku itu. Sekarang giliranku yang tertawa. Secanggih apa sih HP ku?
Berhenti membahas soal HP ku yang menyebalkan itu. Ternyata sahabatku yang menelepon. Untuk apa dia menelepon pagi-pagi? Bukankah kuliah dimulai jam 9.30 nanti?
“Hallo..”,kata pertama yang aku ucapkan saat mendekatkan HP ku ke telinga.
“Rin, kamu belum datang ke kampus? Sekarang kan giliran kelompok kita yang presentasi. Ada slide yang harus di ubah. Cepat datang. Kami tunggu. Sebentar lagi masuk kelas”,ucapnya seperti orang yang sedang berkampanye menggunakan TOA yang membuat telinga kita sakit mendengarnya.
Gita, namanya. Dia langsung menutup teleponnya tanpa mendengar jawabanku terlebih dahulu. Kenapa terburu-buru? Masih ada tiga jam lagi untuk bersiap-siap. Aku melihat jam di HP ku. Pukul 9.00? Aku membandingkan jam yang ada di HP ku dengan jam beker yang tadi kulihat diatas meja. Signifikan perbedaannya. Tiga jam. Aku kebingungan tak tau apa yang salah. Akan tetapi mataku tiba-tiba melirik jarum penunjuk detik pada jam beker itu. Jarum itu tak bergerak. Jam bekernya mati? Aku mengerutkan kening mencerna semuanya. Mencerna kata-kata yang dilontarkan gita, mencerna perbandingan antara HP dan jam beker, dan mencerna jarum penunjuk detik yang mati. Itu artinya jam beker itu mati.
Aku segera mengambil segala peralatan mandi ku dan bergegas menuju kamar mandi. Aku bergegas sambil memikirkan betapa konyolnya semua ini. Mengapa aku tidak menyadari sinar matahari yang menembus jendela kamarku? Padahal sebelumnya aku dengan santainya merapikan kamar sambil mendengarkan lagu-lagu kesukaanku. Sekarang semua berbanding terbalik. Aku meraih apa saja yang dapat kugapai dan memasang baju warna apa saja yang ada di depan mataku. Alhasil, aku menggunakan kemeja kotak-kotak warna pink dan jeans biru serta jilbab berwarna abu. Sepatu yang kupakai kini berwarna hijau menyala. Aku tak peduli semua ini serasi atau tidak. Aku langsung pergi menggunakan motor matic pemberian ayahku tiga bulan yang lalu.
Sepanjang perjalanan, handphone ku berdering terus menerus. Aku tak peduli suaranya yang mengganggu itu. Aku menarik gas motor dengan kelajuan tinggi mengingat bahwa dosen pemegang mata kuliah ini adalah dosen yang paling disegani. Sepanjang perjalanan aku membayangkan wajah Pak Dani yang tak pernah tersenyum dan cenderung melampiaskan kemarahan pada kami. Sebenarnya dosen ini adalah dosen baru di fakultas ku. Beliau baru saja menyelesaikan kuliah S2 nya 2 tahun lalu. Beliau pun belum menikah. Akan tetapi sifatnya yang angkuh dan galak itu membuatnya terlihat lebih tua.
Aku melewati jalan yang lebih cepat yaitu melewati rel kereta api. Rel itu  setiap hari dilewati kereta api. Akan tetapi daerah itu jarang dilewati pengguna kendaraan bermotor dan pejalan kaki karena tak ada penjaga pintu rel dan alarmnya pun rusak. Sehingga kita tak tau persisnya kapan kereta api lewat di daerah itu. Aku mengerem gas motorku mendadak saat kulihat seorang wanita yang sebaya denganku menghentikanku. Tubuhnya lebih tinggi dariku dan lebih kurus dariku. Kulitnya putih mulus. Dia menggunakan terusan berwarna biru dan sepatu hak tinggi. Penampilan yang sangat ganjil di rel kereta yang lingkungannya kumuh. Dia sangat bersih dan rapi. Dia meraih tanganku dan menggenggamnya erat. Aku kebingungan. Ada apa dengan gadis ini?
Dia tersenyum padaku dan berkata, “Rel kereta. Rel kereta.”
Aku hanya bisa mengangguk sambil tersenyum. Aku rasa dia terkena gangguan jiwa. Aku tak kenal dengannya. Akan tetapi waktu ku sangat sempit untuk melayani gadis aneh itu. Tiba-tiba terlintas dalam pikiranku wajah Pak Dani yang killer itu. Tanpa banyak bicara aku melepaskan genggaman tangan gadis itu dan langsung menarik gas motorku dengan kecepatan tinggi. Aku meninggalkan gadis itu sendiri. Aku tak punya pilihan. Aku melanjutkan perjalananku ke kampus dan tak mempedulikan gadis itu lagi.
Tepat pukul 9.28 aku tiba di kampus. Gita menyambutku dengan wajah kesal. Dia meraih tanganku dan membawaku masuk ke dalam kelas. Dia memperlihatkan hasil kerjanya dan langsung aku menyetujuinya mengingat waktu yang telah terjepit dan tak mungkin untuk mengadakan diskusi mengenai slide seperti apa yang akan ditampilkan nanti. Gita tetap bersemangat menjelaskan hasil kerjanya. Namun tak ada satu pun penjelasan Gita yang aku pahami. Aku tak bisa berkonsentrasi karena pikiranku masih di selimuti oleh baying-bayang gadis di rel kereta api itu. Aku mulai menerka-nerka. Semula aku berpikir bahwa gadis itu terkena gangguan jiwa. Akan tetapi dengan penampilannya yang cukup modis dan wajahnya yang bersih, aku rasa tidak mungkin dia adalah gadis yang tidak waras. Tapi mengapa dia menggenggam tanganku erat dan menyebutkan kata, ‘rel kereta’ berulang kali? Lamunanku terhenti ketika Pak Dani telah memasuki ruangan. Pak Dani terlihat sangat dingin, seperti biasanya. Tanpa basa basi beliau meminta kami untuk presentasi di depan kelas. Presentasi berjalan lancar walaupun aku tak terlalu berperan penting dalam presentasi itu. Gita yang lebih banyak bicara demi memuaskan dahaga peserta diskusi.
Setelah perkuliahan selesai, aku bergegas untuk pulang. Di tengah jalan, tiba-tiba hatiku tergelitik untuk melewati rel kereta tadi pagi. Aku penasaran, apakah gadis itu masih ada disana atau sudah menghilang. Aku menarik gas motorku dengan santai. Aku melewati jalan yang sama seperti jalan yang aku lewati tadi pagi.

(bersambung)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar